“Dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar.” (QS. Ar-Rahman: 14). Ayat ini mengingatkan bahwa asal-usul manusia begitu sederhana, hanya dari tanah. Dari tanah yang tidak bernilai, Allah menciptakan sesuatu yang begitu kompleks, penuh akal, dan memiliki martabat. Ilmu biologi modern menjelaskan bahwa unsur utama tubuh manusia—karbon, kalsium, besi, fosfor, magnesium—semua dapat ditemukan dalam tanah. Sains dan wahyu seolah berjumpa dalam satu titik: manusia adalah bagian dari bumi itu sendiri.
Refleksi ini membuat saya merenung, betapa kecil sekaligus besarnya manusia. Kecil karena berasal dari tanah, yang sering kita injak dan abaikan. Besar karena dari unsur sederhana itu, Allah menganugerahkan kehidupan, akal, dan jiwa. Maka, kesombongan manusia sungguh tidak beralasan, sebab ia hanya debu yang dihidupkan dengan izin-Nya.
Ketika menyadari asal-usul ini, saya merasa lebih dekat dengan bumi. Tanah yang saya pijak bukan sekadar benda mati, melainkan saudara tua yang darinya saya berasal. Kelak pun saya akan kembali ke tanah. Kesadaran ini menumbuhkan rasa rendah hati dan pengingat untuk menjalani hidup dengan penuh kesadaran bahwa semua berasal dari-Nya, dan akan kembali kepada-Nya.

0 Komentar